Bepikir Deduktif
Berpikir Deduktif
Deduksi berasal dari bahasa Inggris deduction yang berarti penarikan kesimpulan
dari keadaan-keadaan yang umum, menemukan yang khusus dari yang
umum. Deduksi adalah cara berpikir yang di tangkap atau di ambil dari
pernyataan yang bersifat umum lalu ditarik kesimpulan yang bersifat khusus.
Penarikan kesimpulan secara deduktif biasanya mempergunakan pola berpikir yang
dinamakan silogismus.
Metode
berpikir deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum
terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang
khusus.
Metode
berpikir deduktif adalah: metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum
terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang
khusus.
Contoh:
Masyarakat Indonesia konsumtif (umum) dikarenakan adanya perubahan arti sebuah kesuksesan (khusus) dan kegiatan imitasi (khusus) dari media-media hiburan yang menampilkan gaya hidup konsumtif sebagai prestasi sosial dan penanda status sosial.
Contoh:
Masyarakat Indonesia konsumtif (umum) dikarenakan adanya perubahan arti sebuah kesuksesan (khusus) dan kegiatan imitasi (khusus) dari media-media hiburan yang menampilkan gaya hidup konsumtif sebagai prestasi sosial dan penanda status sosial.
Deduksi
adalah cara berpikir dimana dari pernyataan yang bersifat umum ditarik
kesimpulanyang bersifat khusus. Penarikan kesimpulan secara deduktif biasanya
mempergunakan pola berpikir yang dinamakan silogismus. Silogismus disusun dari dua buah pernyataan dan
sebuah kesimpulan.
Pada induksi kita berjalan dari bukti naik ke
undang. Pada cara deduksi adalahsebaliknya. Kita berjalan dari Undang ke bukti.
Kalau kita bertemu kecocokan antara undangdan bukti, maka barulah kita bisa
bilang, bahwa undang itu benar. Kalau kita sudah terima, bahwa semua benda
kehilangan berat dalam semua cair, maka kita ambil satu benda
dan satuzat cair buat penglaksanaan. Kita ambil sepotong timah, kita
timbang beratnya di udara. Kitadapat B gram. Kita masukkan timah tadi ke dalam
air. Kita timbang beratnya air yangdipindahkan oleh timah tadi, kita dapati b
gram. Menurut undang Archimedes timah tadi
mesti kehilangan berat b gram. Jadi ditimbang dalam air, beratnya
menurut Archimedes mestinya (B-b) gram. Sekarang kita ambil beratnya dan
timbangan timah yang terbenam tadi.Betul kita dapat (B-b) gr. Jadi betul cocok
dengan undang Archimedes. Sekarang inductionsudah beralasan deduction,
kebenaran undang sudah di sokong oleh penglaksanaan.Berulang-ulang kita lakukan
pemeriksaan kita dengan benda dan zat cair berlainan dan berulang-ulang kita saksikan kebenaran undangnya Archimedes, pemikir Yunani itu.
Madilog Metode
berpikir deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yangumum
terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang
khusus.Contoh: Masyarakat Indonesia konsumtif (umum) dikarenakan adanya
perubahan artisebuah kesuksesan (khusus) dan kegiatan imitasi (khusus) dari
media-media hiburan yangmenampilkan gaya hidup konsumtif sebagai prestasi
sosial dan penanda status social.
Sumber
: http://www.academia.edu/5086030/Filsafat_Ilmu_Berfikir_Induktif_deduktif
1.
Silogisme
Silogisme adalah suatu bentuk proses penalaran yang berusaha
menghubungkan dua proposisi (pernyataan) yang berlainan untuk menurunkan suatu
kesimpulan atau inferensi yang merupakan prosposisi yang ketiga.
1
Silogisme kategorial
kategorial dapat dibatasi sebagai suatu argumen deduktif
yang mengandung suatu rangkaian yang terdiri dari tiga proposisi katergorial,
yang disusun sedemikian rupa sehingga ada tiga term yang muncul dalam rangkaian
pernyataan itu. Tiap-tiap term hanya boleh muncul dalam dua pernyataan, contoh
:
·
Semua Auditor adalah lulusan sarjana Akuntansi
·
Ayu adalah seorang Auditor
·
Konklusi : Ayu adalah
lulusan sarjana Akuntansi
1.
Silogisme hipotesis atau silogisme pengandaian
adalah semacam pola penalaran deduktif yang mengandung hipotese.
Silogisme hipotetis bertolak dari suatu pendirian, bahwa ada kemungkinan apa
yang disebut dalam proposisi itu tidak ada atau tidak terjadi. Premis mayornya
mengandung pernyataan yang bersifat hipotesis. Oleh karena sebab itu rumus
proposisi mayor dari silogisme ini adalah:
jika A è
B
·
Premis mayor : Jika
ketua Mahkamah Konstitusi melakukan tindakan penyuapan maka dia akan dipenjara
·
Premis minor : Ketua Mahkamah Konstitusi melakukan tindakan
penyuapan
·
Konklusi : oleh sebab itu dia akan dipenjara.
1.
Silogisme Alternatif (disjungtif).
Jenis silogisme yang ketiga adalah silogisme alternatif atau
disebut juga silogisme disjungtif. Silogisme ini dinamakan demikian, karena
proposisi mayornya merupakan sebuah proposisi yang mengandung
kemungkinan-kemungkinan atau pilihan-pilihan. Sebaliknya porposisi minornya
adalah proposisi kategorial yang menerima atau menolak salah satu
alternatifnya. Sebagai contoh berikut :
Entimen
Silogisme sebagai suatu cara untuk menyatakan pikiran
tampaknya bersifat artifisial. Dalam kehidupan sehari-hari biasanya silogisme
itu muncul hanya dengan dua proposisi, salah satunya dihilangkan. Walaupun
dihilangkan, proposisi itu tetap dianggap ada dalam pikiran, dan dianggap
diketahui pula oleh orang lain. Bentuk semacam ini dinamakan entimem yang
berarti ‘simpan dalam ingatan’ dalam bahasa yunani. Dalam tulisan-tulisan
bentuk inilah yang dipergunakan, dan bukan bentuk yang formal seperti
silogisme. Contoh :
Semua
dosen fakultas Ekonomi Gunadarma adalah lulusan Sarjana Magister
Ibu
Desy adalah dosen fakultas ekonomi Gunadarma
Oleh
karena itu, ibu Desy adalah lulusan Sarjana Magister
Sumber : http://ayumegadarmaberlianlestari.blogspot.com/2013/10/penjelasan-mengenai-penalaran-induktif.html
Komentar
Posting Komentar